SMS Sabda

Another way spreading God Words

Berjaga jaga

​Siraman Rohani

Rabu 19 Oktober 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Sebagai hamba Tuhan yang setia kita harus selalu berjaga-jaga dan jalankan perintah Tuhan dengan penuh tanggungjawab! (Lukas 12: 39 – 48)
Saudara-saudari… Ada seorang kaya, penjual emas. Rumahnya dijaga oleh dua satpam. Satu satpam menjaga di pintu gerbang keluar dan satu satpam di pintu gerbang masuk. Dalam rumah orang kaya ini ada beberapa batang emas. Pada suatu pagi orang kaya ini mau terbang ke tempat yang cukup jauh. Ia tidak memberitahukan kepada satpam kalau ia mau bepergian jauh. Sewaktu ia melewati pintu gerbang keluar, Satpam mengamatinya bahwa tuannya membawa koper besar. Dia tahu bahwa tuannya bepergian jauh. Sejam sesudah tuannya pergi ia juga pergi tinggalkan pekerjaannya. Ia sungguh yakin bahwa tuannya pergi ke tempat jauh. Ia juga tidak memberitahukan teman satpam yang satu, bahwa ia pergi. Sesudah beberapa jam, tuannya kembali ke rumah, karena penerbangannya ditunda ke malam hari. Pada malam hari, sewaktu tuannya mau keluar, satpam yang bekerja di pintu keluar tidak ada. Pintu gerbang harus dibuka oleh petugas lain. Pada waktu itu baru diketahui bahwa satpam di pintu keluar ternyata tidak ada di tempat tugas, ia bolos dari tugasnnya. Ke manakah ia pergi? Ia pergi mengikuti kemauannya sendiri, ia mau bersenang-senang karena tuannya sudah pergi. Kini ia terjebak. Ketidak-setiaannya kini terbongkar. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi kepura-puraannya. Ia tertangkap basah. Sekarang ia harus berhadapan dengan tuannya dan harus bertanggungjawab akan apa yang dibuatnya.

Saudara-saudari… Hari ini Yesus mengingatkan kita, para muridNya untuk selalu berjaga-jaga menantikan kedatangan Anak Manusia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak disangka-sangkakan. Yesus juga ingatkan kita agar tetap menjalankan tugas kita sebagai hamba yang baik, bukannya menjadi hamba yang munafik.
Menjadi anggota Tubuh Kristus adalah panggilan untuk hidup dalam kewaspadaan, harus siap-sedia setiap waktu. Orang waspada adalah orang yang selalu setia melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, bukan karena ingin mendapat balas jasa, melainkan karena sudah menjadi kewajiban moral yang harus dilakukannya.   Orang waspada adalah orang yang dipanggil untuk menjadi saksi bagi orang lain, bukannya agar dipuji tetapi karena merasa bahwa ia dibentuk seperti itu demi kedamaian dirinya sendiri maupun kebahagian orang lain.

Seorang anak seminari sewaktu ditanya, apa yang mendorong dia selalu rajin berdoa dan bekerja di kebun menanam sayur? Dengan senyum ia katakan: “Berdoa dan bekerja sudah menjadi bagian dari hidup saya. Saya melakukannya bukan untuk siapa-siapa, bukan untuk dipuji, tetapi untuk kepentingan perkembangan kepribadian kusendiri agar saya bisa bertumbuh dan berkembang menjadi seorang yang seimbang, rohani dan jasmani.”
Sikap seperti inilah yang selalu diharapkan oleh Yesus Kristus dari kita para pengikutNya. Bahwa kita selalu setia mengikuti perintah Tuhan dan dengan penuh-tanggungjawab menjalankannya. Kalau kita selalu hayati dan amalkan perintah Tuhan setiap hari maka dengan demikian kita sudah mempersiapkan bathin  kita untuk menyambut kedatangan Tuhan kapan saja Dia mau datang menemui kita. Yesus hari ini berkata kepada para muridNya: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”

Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah kita selalu berdoa setiap saat? Apa motivasi doa kita, apakah sebagai satu kegiatan mempersiapakan diri untuk menyambut Tuhan kita atau sebagai satu kebutuhan rohani yang harus kita laksanakan demi kehidupan jiwa kita? Apakah perbuatan amal yang kita lakukan setiap tahun kita lakukan sebagai ungkapan rasa cinta atau karena satu kewajiban moral yang harus kita jalankan?
Marilah saudara-saudari, kita berdoa semoga kita selalu merasa didorong untuk berjaga-jaga dan menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan, bukan karena didorong oleh perasaan mau diselamatkan, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai satu ungkapan penghayatan dan pengamalan cinta kita kepadaNya, bahwa sebagai hamba Tuhan yang setia, kita harus selalu mencintai Dia dan selalu menjalankan perintahNya dengan penuh tanggungjawab.
Kita memohon Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Keputusan Tuhan

​HIK:

Rabu 19 Sept 2016.

Ef 3:2-12

Luk 12:39-48
Homo proponit, sed Deus disponit – Manusia berencana, Tuhan yang memutuskan.”
Bersama dengan memoria/kenangan akan meninggalnya kerabat atau sahabat kita, Yesus jelas menekankan pentingnya sikap berjaga: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Aku datang pada saat yang tidak kamu duga” (Luk 12:40).
Yang pasti, secara imani, kita hidup di antara dua kedatanganNya: yang pertama sudah terjadi dan yang kedua akan datang.
Dkl: hidup kristiani tampak sebagai hidup dalam penantian, yang kerap tidak nyaman dan selalu berada dalam ketegangan karna tidak ada kejelasan yang persis tentang kapan datangnya yang dinanti.
Menariknya, kedatanganNya diibaratkan dengan kedatangan seorang pencuri. Tujuan seorang pencuri adalah memasuki rumah korbannya tanpa diketahui oleh siapapun.
Tapi, Tuhan adalah “pencuri istimewa” yang malah kerap memperingatkan “korbannya” agar berhati hati dan berjaga-jaga. Berbeda dengan pencuri lain, pencuri istimewa ini justru senang kalau kedatanganNya diketahui oleh orang banyak. Ia malah senang kalau pekerjaanNya gagal total karena semua orang waspada, bersiap & berjaga: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”
Adapun trilogi semangat yang bisa kita “siap”kan, antara lain:
1.Persahabatan: “Simanjuntak – Siap beriman biar maju serentak”.

Inilah sebuah persahabatan dengan Allah sekaligus dengan sesama yang sama sama ber-“ziarah”menuju Allah.
Hal ini bisa dibuat dengan “KUD”:

Karya yang murah hati,

Ucapan yang memberkati,

Doa yang sepenuh hati berpola “ABCD”-“Adorasi, Baca kitab suci, Cintai ekaristi dan Doa doa devosi”.
2.Perjuangan: “Sihombing- Siap diombang ambing”.

Inilah harapan supaya kita selalu tegar di tengah badai cobaan dan godaan, tetap tegar walau kadang tawar- pudar – hambar dan redup sayup nyalanya.
3.Pertobatan: “Sitorus-Siap bertobat terus”.

Kita diajak untuk selalu rendah hati bertobat dan ber-“metanoia”, berbalik kepadaNya setiap hari: “Cura ut valeas – Berusahalah agar kau berhasil!”
“Ada Ita ada Abdullah – Maranatha Tuhan datanglah!”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Kekayaan jasmani

​Siraman Rohani

Senin 17 Oktober 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Manfaatkanlah kekayaan jasmani kita dengan baik agar jiwa kita pun boleh alami kebahagiaan kekal ! (Lukas 18: 1 – 8)
Saudara-saudari…. Hari ini kita merayakan Pesta Santo Ignasius dari Antiokhia. Ia adalah murid dari St. Yohanes, Rasul, Penulis Injil. Bagi Yohanes, Ignasius adalah murid yang sangat mengesankan. Ia pandai, saleh dan bijaksana. Oleh karena itu ia kemudian diangkat menjadi uskup Antiokia. Pada masa itu umat Kristen dikejar-kejar dan dianiaya oleh kaki-tangan kaisar Trajanus. Ignasius sendiri tidak luput dari pengejaran dan penganiayaan itu. Biasanya kepada mereka ditawarkan hanya dua kemungkinan: murtad atau mati. Kalau mereka murtda dan meyangkal imannya, mereka akan selamat, kalau tidak, nyawanya akan melayang oleh pedang atau dibunuh dengan cara-cara lain. Bersama Ignasius, banyak orang Kristen ditangkap, dihadapkan kepada kaisar yang datang ke kota itu. Kaisar menayai Ignasius: “Siapakah engkau, hai orang jahat yang tidak mantaati titahku?” dengan tenang Ignasius menjawab: “Jangan menyebut orang jahat yang membawa Tuhan dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin orang-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua pengikut Kristus yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia. Kristus itulah Tuhan kami dan Ia tetap tinggal dalam hati kami dan menyertai kami.” Jawaban Ignasius itu menimbulkan amarah kaisar. Ia segera dibelenggu dan disiksa. Tetapi sebagaimana Kristus, Ignasius pun menanggung semua penderitaan itu dengan tabah sambil bersyukur kepada Tuhan karena boleh mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Dari Antiokia, Ignasius dibawa ke Roma untuk dicampakan dalam kandang singa-singa lapar. Dalam kapal ia menulis surat kepada Polykarpus dan seluruh umat di Antiokia. Ia menegaskan betapa pentingnya umat tetap setia kepada imannya dan tetap berkumpul untuk merayakan Ekaristi Kudus. Katanya: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus dan satu juga piala DarahNya. Keduanya dikurbankan di atas altar oleh uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon.”  Dia juga meminta umatnya untuk mendoakan dia agar dia tetap tabah dan tetap menjadi saksi Kristus sampai mati. Setibanya di Roma, sambil diapiti ketat oleh prajurit – prajurit kafir yang kejam, ia digiring masuk gelanggang binatang buas. Di sana tubuhnya yang suci dicabik-cabik singa-singa lapar. Ignasius menerima mahkota kemuliaannya pada tahun 107. Ia mati demi iman akan Kristus. Iman akan Kristus adalah kekayaan yang dipeliharanya sampai mati dan iman itulah yang sudah menjamin keselamatan jiwanya. Kini dia boleh berbahagia bersama Kristus dalam kerajaan surga.
Hari ini Yesus mengingatkan kita akan kekayaan jasmani. Katanya: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”  Kemudian Yesus menceriterakan satu perumpamaan tentang seorang kaya yang memiliki begitu banyak harta. Selagi dia memikirkan apa yang akan dibuatnya atas kekayaannya, tiba-tiba firman Tuhan datang kepadanya: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”  Kekayaan duniawi tidak akan dibawa ke tempat jiwa kita akan bersemayam sesudah kematian. Kerakusan akan kekayaan duniawi akan sangat menghancurkan kehidupan jiwa sesudah tubuh kita mati. Kalau kekayaan duniawi selalu dipandang sebagai berkat Tuhan dan dimanfaatkan dengan baik, membantu mereka yang miskin dan menderita, maka jiwa orang itu pun akan mengalami kebahagiaan di hari akhirat. Dan kepada orang itu Tuhan akan berkata: di saat Aku lapar, engkau memberi Aku makan, di saat Aku haus, engkau memberi Aku minum, di saat Aku sakit, engkau melawati Aku dst.
Marilah saudara-saudari….kita ikuti teladan hidup Santu Ignasius dari Antiokia, yang sungguh setia kepada Yesus Kristus dan tekun menjalankan perintahNya. Semoga kita pun selalu melihat kekayaan jasmani kita sebagai berkat Tuhan dan manfaatkan kekayaan jasmani itu demi kebaikan diri dan sesame kita agar dengan demikian jiwa kita pun boleh alami kebahagiaan kekal.
Kita berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan iman kita dan selalu menyadarkan kita akan kehidupan jiwa kita baik selama kita hidup di dunia ini maupun di masa mendatang.
Kita memohon Santo Ignasius dari Antiokia dan Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Konsumerisme

​HIK:

Senin, 17 Oktober 2016

Pekan Biasa XXIX

PW S. Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir

Ef 2:1-10; Mzm 100:2-5; Luk 12:13-21
“Emo ergo sum – Aku berbelanja maka aku ada”.
Berbelanja (shopping) agaknya telah menjadi ciri kebanyakan manusia yang hidup di zaman kontemporer dewasa ini –hingga ahirnya menciptakan konsumerisme dan materialisme padahal hari ini Yesus memperingatkan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan (“pleonexia”), sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.”
Banyak dari kita ingin berjuang untuk menjadi kaya, entah kaya secara finansial, intelektual ataupun social. Bagi saya sendiri, Yesus mengajak kita menjadi kaya bukan melulu kaya d hadapan dunia, tapi terlebih kaya di hadapan Allah.
Bersama dengan teladan St Ignasius dari Antiokhia yang kita kenangkan hari ini, adapun kaya di hadapan Allah itu memiliki dua syarat, yakni: “KAsihi Tuhan dan YAkini iman.”
Menjadi sebuah kecenderungan umum bahwa semua orang kaya diidentikkan dengan memiliki harta benda, tapi hari ini “harta benda” itu memilik arti imani, al:
1. HARapan:

Ciri orang “kaya” adalah hidupnya punyai harapan karena yakin bahwa Allah selalu menjadi “Immanuel”: menyertai kita di tengah ruwet renteng pergulat-geliatan dunia ini. Kita diajak untuk terus berharap, jangan melulu berputus asa dan bermurung durja jika melihat diri lemah, tetapi sebaliknya kita justru berbangga dan tetap bersukacita karena pastilah Allah yang akan terus berkarya
2. cinTA:

Bisa saja kita memberi tanpa mencintai, tapi mustahil mencintai tanpa memberi bukan? Orang yang benar benar “kaya” biasanya mudah untuk berbagi cinta kasih. Di tengah dunia yang berpola “UUD – Ujung Ujungnya Duit”, Yesus mengajak kita untuk mau berbagi, karena semua ini adalah rahmatNya (gratia, grace: gratis), yang akan semakin bertambah jika kita bagikan dengan tulus kepada sesama. Yakinlah bahwa tak seorang pun sia-sia di dunia ini, ketika ia meringankan beban kehidupan bagi orang lain. Bukankah sebuah lilin tak kehilangan apa pun dengan menyalakan lilin lain? Dengan memberi, bukan dengan menerima, kita bisa menjadi kaya! Sebaliknya, sikap yang terpusat pada diri sendiri dan tak butuh berbuat apa-apa lagi kecuali memiliki, memiliki dan terus memiliki. Entah harta, entah pangkat, entah keahlian, malahan akan membuat kita tak berarti apa-apa.
3. keBENaran:

Salah satu universitas teratas sedunia adalah Harvard yang berlogo “Veritas”. Artinya adalah “Kebenaran”. Veritas ini secara utuh bisa ditemukan dalam diri Yesus (Yoh 14:6). Dkl: orang yang “kaya” pasti memiliki veritas yang didapat dengan hidup beriman yang mendalam. Dalam kacamata iman kristiani, kita diajak untuk tidak menggantungkan diri pada harta duniawi, tetapi menggunakan harta duniawi sebagai sarana persembahan kepada Tuhan sang kebenaran. Dalan mata iman lebih lanjut, harta ialah berkat ilahi yang mesti dikembangkan seperti talenta dan tidak dipendam sendirian.
4. keDAmaian:

Orang yang benar benar “kaya” mudah memiliki kedamaian, karena hidupnya penuh dengan rasa yang positif dan hidup yang afektif. Ia menyadari bahwa hidup hanyalah sementara dan ia menggunakan waktunya sebaik mungkin dengan kata dan sikap yang penuh kedamaian karena baginya, masalahnya bukan apakah kita akan mati, tetapi bagaimana cara kita hidup. Kedamaian membantu kita menemukan yang tak bakal bisa lenyap: harta di hadapan Allah karena harta benda dunia tak membuat seseorang otomatis menjadi kaya raya, bisa jadi itu hanya membuatnya lebih sibuk. Orang miskin kekurangan banyak tapi orang tamak kekurangan segalanya bukan?
“Mpok Alya suka cari galah – jadilah kaya di hadapan Allah!”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ————————

Jiwa perbuatan

​Siraman Rohani

 Sabtu 15 Oktober 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Iman adalah jiwa dari perbuatan kita! (Lukas 12: 8 – 12)
Saudara-saudari… Hari ini kita rayakan Pesta St. Teresia dari Avila. Sesudah mengalami banyak penderitaan ia mendapat penglihatan. Ia menyaksikan kesengsaraan orang-orang di dalam Neraka. Sejak saat itu ia mengalami suatu pertobatan bathin yang radikal dan berdoa agar Yesus meperkenankan dia melayaniNya dengan penuh kesetiaan. Pada usia 50-an tahun, Teresia mencita-citakan suatu biara kecil di mana beberapa orang suster menghayati dengan lebih sungguh aturan-aturan asli karmelit. Bersama 4 orang suster lain, ia mendirikan biara idamannya itu, biara santo Yosef di Avila pada 24 Agustus 1562. Tujuan utamanya ialah untuk membaharui semangat hidup suster Karmelit sesuai dengan tujuan aslinya. Usahanya ditantang oleh banyak orang, tetapi Paus mendukung usaha pembaharuannya.  Ciri khas biaranya: kecil, miskin, tertutup terhadap dunia luar dan berdisiplin keras. Ia meninggal dunia 24 Oktober 1582. Pada tahun 1622 ia dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius 14 dan diangkat sebagai pelindung Spanyol. St. Teresia sekali mendapat pengalaman iman, ia sungguh focus pada pesan yang diterimanya dari pengalaman itu. Imannya pada Kristus sudah menjiwai segala perbuatannya. Ia percaya bahwa imannya akan Yesus Kristus sudah menjiwa perbuatannya, ia percaya bahwa usaha pembaharuannya dalam biara Karmel pun pasti berhasil. Benarlah yang terjadi. Paus Gregorius ke 14 mengakuinya karena itu ia menobatkannya menjadi orang kudus dan pelindung Negara Spanyol.

Saudara-saudari… Injil hari ini mengingatkan kita akan tiga hal penting.
1) Mengakui Yesus Kristus sebagai Putera Allah. Barangsiapa yang mengakui Yesus Kristus, maka Yesus Kristus-pun akan mengakui dia. Katanya kepada para muridNya: “Setiap orang yang mengakui Aku di di depan manusia, maka Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malekat-malekat Allah. Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, maka ia akan disangkal di depan malekat-malekat Allah.”  Terpujilah kita kalau kita selalu mengakui Yesus Kristus dengan penuh iman. Tuhan selalu mengharapkan agar pengakuan kita sungguh menjiwai segala perbuatan kita. Pengakuan tanpa perbuatan adalah sia-sia. Tunjukkanlah kepada dunia bahwa kita adalah saudara dan saudari Kristus. Di saat kita ditantang, hadapilah tantangan itu dengan senyum dan layanilah mereka dengan baik. Perbuatan baik kita pasti akan menggugah hati banyak orang. Iman kita harus menjiwai perbuatan kita.
2) Barangsiapa yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Dia yang menghujat Roh Kudus berarti secara sadar dan penuh tanggungjawab ia tidak mengakui Roh Kudus; menolak keberadaan dan kuasa Roh Kudus. Barangsiapa yang menolak Roh Kudus, maka konsekwensinya adalah pada hari akhirat dia akan tinggal di tempat di mana Roh Kudus tidak bersemayam. Kalau Roh Kudus tidak ada itu berarti  kesengsaraan untuk selamanya menjadi bagian dari kehidupan mereka yang menolak Roh Kudus. St. Teresa dari Avila dalam penampakannya sudah melihat kesengsaraan yang ada di Neraka. Kita berdoa semoga kita selalu mengakui Roh Kudus untuk selama-lamanya.
3) Roh Kudus selalu tinggal bersama orang yang percaya kepadaNya. Yesus menasihati para muridNya: “Janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”  Pernahkah kita alami bagaimana Roh Kudus membantu kita di saat kita dalam keadaan terjepit? Yesus Kristus menjanjikan kita akan kebaikan Roh Kudus. Percayalah pada perjanjianNya karena Ia selalu setia pada apa yang sudah dikatakanNya. Yesus Kristus adalah kebenaran. Apa yang dikatakannya selalu benar.
Marilah saudara-saudari… kita berdoa memohon bantuan Tuhan agar Ia selalu menguatkan iman kita agar dengan demikian iman kita selalu dijadikan jiwa dari perbuatan harian kita.
Kita meminta Santa Teresia dari Avila dan Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Discretio Spirituum – Pembedaan Roh

​HIK:

Sabtu, 15 Oktober 2016

Pekan Biasa XXVIII

PW. St Teresia dari Yesus

Ef 1:15-23

Luk 12:8-12

Inilah salah satu elemen dasar dalam Latihan Rohani ala Ignatius (LR 313 – 336). Dimensi ini membantu orang untuk membeda-bedakan berbagai kecenderungan hati, mengenali tendensi egoistik, serta mencari dan menemukan kehendak Allah.
Diyakini, bahwa para pemimpin dan tokoh di dalam Kitab Suci mampu bernubuat, mewartakan sikap kenabiannya, hanya bila Roh Kudus hadir di sana. Roh Kudus mendidik mereka untuk memahami Sabda Allah dalam kehidupan yang paling nyata. Suatu saat Musa berdoa pada Tuhan karena umat yang dipimpinnya meminta makanan. Tuhan mencurahkan Roh pada Musa dan tujuh puluh tua-tua yang membuat mereka mampu berkata-kata (Bil. 11: 16 – 23).
Perjanjian Baru lebih eksplisit mengungkapkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam diri manusia. Surat Pertama Rasul Yohanes menulis banyak perkara ini (2:20, 27; 5:6, 9-10).
Disinilah kita diajak melihat sebetulnya apa itu Roh? Kata Roh itu sendiri berasal dari bahasa Ibrani, yang artinya, ruah: angin. Allah itu sendiri adalah roh” [Yohanes 4:24]. “Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat diurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. [Mazmur 139:7-8].
Angin atau Roh sendiri punya tiga gelombang yang baik, al: menghibur, menyembuhkan dan menghidupkan.
1. Menghibur.

Yesus tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia menjanjikan Penghibur, tampak jelas dan lugas dalam Injil Yohanes 14:15-31. “Penghibur/Penolong” sendiri dalam bahasa Yunani ialah Parakletos. Saat ini-kita kerap melihat banyak parakletoi (jamak dari parakletos). Parakletos juga bisa berarti penghibur yang membesarkan hati. Juga berarti pemberi kekuatan. Itulah parakletos. Dalam keadaan bencana, kehadirannya lebih terasa. Tapi dalam keseharian sebenarnya parakletoi ini sebetulnya ada di sekitar kita.
2. Menyembuhkan.

Ketika saya bertugas di stasi Tanjung Kait, kadang saya mampir ke pinggir laut, yang dekat dengan sebuah To Pe Kong kuno. Banyak orang awam mengatakan, angin laut itu bisa menyembuhkan orang yang sakit asma. Begitu juga dengan sebuah kisah dari dunia Perjanjian Lama, Yeremia bin Hilkia, seorang nabi belia, yang depresi berat, karena merasa masih sangat muda dan tidak pandai berbicara (Yer 1:6). Allah datang sebagai angin yang menyembuhkan. “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan..Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau.” (Yer 1:7-8).
3. Menghidupkan.

Pasca kematian Yesus, semua murid pilihanNya lari terkocar-kacir, terpencar sebar. Pastinya, mereka semua bersembunyi di pintu rumah yang terkunci rapat. Petrus yang biasanya keras dan penuh inisiatif, bahkan menyangkal Yesus tiga kali. Begitu pula para murid yang lainnya, Yohanes yang pandai menulis, Yakobus yang pandai juga memimpin, Thomas yang kerap kritis, sinis dan skeptis. Inilah simbol hati yang dingin, iman yang mati terkunci karena dosa dan ketakutan.
Tapi Tuhan datang kembali sebagai angin yang menghidupkan (Kisah 2:1-13) dalam peristiwa Pentakosta sehingga para murid menjadi penuh dengan Roh Kudus: “… Janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”
Dengan kurnia Roh Kudus, Petrus berkotbah dengan gagah berani di depan banyak orang Yahudi di Yerusalem, di serambi Salomo, bahkan ia juga menyembuhkan orang yang lumpuh, dan akhirnya berani mati disalib, bahkan disalib dengan posisi terbalik. Yohanes berkotbah di hadapan Mahkamah Agama dan semakin rajin menulis Injil, bahkan akhirnya berani mati di tangan orang-orang kafir. Thomas juga sampai menyebarkan Injil di India, dan berani mati juga ditusuk tombak oleh orang-orang kafir. Andreas saudara Petrus juga berani mati disalib silang. Yakobus, yang menjadi Uskup Agung Yerusalem pertama, akhirnya juga berani mati, menjadi martir pertama dari antara para rasul yang lainnya.
Bagaimana dengan kita sendiri?
“Cari galah cari kardus – Datanglah ya Roh Kudus!”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Takutilah Tuhan Allahmu!

​Siraman Rohani

Jumat 14 Oktober 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Takutilah Tuhan Allah-mu! (Lukas 12: 1 – 7)
Saudara-saudari…. Di saat orang saling mencintai, maka kerinduan untuk bertemu selalu ada dalam pikiran dan hati mereka. Di saat salah satunya sakit, maka perasaan takut akan kehilangan orang yang dicintai itu pun selalu menghantui pikiran dan hati dari teman-temannya. Perasaan takut akan kehilangan orang yang dicinta di sini artinya takut kalau-kalau ia meninggalkan kita; takut jangan-jangan karena kesalahan kita, orang yang kita cintai akan menjauh dari kita; takut jangan-jangan secara tiba-tiba Tuhan memanggilnya pergi untuk selama-lamanya.

Seorang teman, secara tebuka ungkapkan perasaannya kepada saya di saat ibunya sakit. Katanya, “Teman, sesudah mendengar berita bahwa ibu saya sakit, setiap saat saya sangat cemas. Di saat anggota keluarga kirim sms atau telpon, saya selalu cemas, jangan-jangan ada berita sedih menyangkut mama saya. Saya sungguh cemas kehilangan mama saya. Tolong doakan agar saya siap menerima kenyataan apapun yang akan terjadi. Doakan mama saya, semoga Tuhan memberi dia kesembuhan.”
Hari ini Yesus ingatkan para muridNya, katanya: “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka, Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”
Apakah arti dari pernyataan Yesus: Takutilah Dia? Arti dari pernyataan Yesus ini sesungguhnya sama seperti yang sudah saya jelaskan di atas tadi,    yaitu takut akan kehilangan Tuhan, yang sangat mencintai kita. Dia adalah Bapa kita, Dialah pencipta kita; Dia selalu menyiapkan apa yang kita butuhkan; Dia selalu menyertai kita kapan dan dalam situasi apa saja; Dia selalu mencintai kita. Walapun kita sudah jatuh ke dalam dosa, tetapi Ia selalu siap mengampuni dosa kita. Karena Dia begitu baik, maka kita selalu berusaha untuk selalu menjaga relasi yang baik dengan Dia. Kita takut jangan-jangan karena kesalahan kita maka kita jadinya menjauh dari Dia dan kita pelan-pelan kehilangan Tuhan. Itulah arti dari pernyataan Yesus: Takutilah Dia! Bukan takut dalam arti negatip: takut jangan-jangan karena kesalahan kita Dia akan menyiksa kita, Dia akan menghukum kita. Tuhan yang mahacinta, maha berbelaskasihan tidak akan menghukum kita; sebaliknya, kita yang menghukum diri kita sendiri karena kesalahan kita sendiri.
Marilah saudara-saudari… Tuhan yang mencintai kita akan selalu mendapingi kita sampai pada akhir zaman. Hanya kepada Dia kita pasrahkan diri kita. Jangan pernah tinggalkan Dia. Barangsiapa yang selalu berpegang pada Tuhan, apapun tantangan yang kita hadapi pasti kita dapat hadapinya dengan tenang dan sabar. Yesus Kristus, Tuhan kita, sudah tunjukkan itu semua kepada kita. Dia berhasil memikul salib ke Golgota dan bertahan bergantung di salib dan kemudian menghebuskan nafasnya dengan tenang, karena Tuhan selalu memberi Dia kekuatan.
Kita berdoa semoga Tuhan selalu memberi kita kekuatan dalam menghadapi situasi apa saja. Jangan takut kepada siapa-siapa, kecuali kepada Dia yang menguasai hidup kita, baik tubuh maupun jiwa kita.
Kita masih dalam bulan Oktober, bulan khusus kita berjalan bersama Bunda Maria, berdoalah bersama Maria, mintalah dia untuk selalu mendoakan kita. Amen!
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Kasih Kristus

​HIK:

Jumat 14 Okt 2016.

Ef 1:11-14

Luk 12:1-7
“Caritas Christi urget nos – Kasih Kristus yg mendorong kami.”
Inilah salah satu semangat dasar yang saya tulis dalam buku “XXI” (RJK, Kanisius),yang mendorong kita untuk lebih berani diutus mewartakan injil, seperti pesanNya: “Janganlah takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi!” Disinilah, kita diajak tidak takut terhadap dunia karena kita memang ada di tengah dunia tapi bukan milik dunia.
Tercandra, ada tiga keyakinan yang membuat kita tidak mudah takut, al :
1. Allah mengasihi kita :

Deus caritas est- Allah adalah kasih.

Bukankah hidup kita akan lebih penuh sukacita ketika yakin bahwa kita ada karna Allah telah lebih dulu mengasihi kita? Bukankah di dalam kasih dan sukacita juga tidak ada ketakutan?
2. Allah memimpin kita :

Deus vult -Tuhan menghendakinya.

Inilah motto para laskar Perang Salib yang meyakini bahwa Tuhan-lah pemimpin yang sejati dimana kita menjadi murid dan sahabatNya dan Ia menjadi Tuhan kita.
3. Allah menyertai kita :

Deus vobiscum tuum – Tuhan menyertai kita.

Ia selalu hadir dalam setiap pergulatan suka-duka, tawa-tangis hidup kita.

Ingatlah filosofi “TAKUT”: di depan dan di akhir ada “T” (Tuhan) dan di tengahnya ada “K” (Kristus).
“Makan bakut di Surabaya – Jangan takut teruslah percaya!”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Kunci pengetahuan

​Siraman Rohani

Kamis 13 Oktober 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Jadilah kunci pengetahuan bagi sesama! (Lukas 11: 47 – 54)
Saudara-saudari… Hari ini kita mendengar Yesus marah sekali dengan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Dia mengecam mereka dengan kata-kata yang keras bahkan menyakitkan, katanya: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.”  Sikap mereka dikritik oleh Yesus. Kata-kata ini tidak hanya bernada mengecam, namun juga ada nada mengutuk. Karena sesungguhnya sikap mereka tetap tidak beda dengan sikap nenek moyang mereka, yaitu menolak para nabi dan Mesias, yaitu Yesus Kristus. Orang Farisi dan ahli Taurat terang-terangan menolak Yesus Kristus, dan berencana mau membunuhnya. Mereka tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Karena penolakan akan Yesus Kristus, maka mereka harus siap menerima konsekwensinya. Konsekwensi menolak Yesus Kristus adalah kutukan, malapetaka di hari akhirat.
Yesus juga katakan: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha masuk ke dalam kamu halang-halangi.”  Yesus bersikap tegas terhadap kesalahan. Ia tidak pernah mau kompromi dengan si jahat. Ia menolak. Ia mengusir. Ia mengutuk.  Menurut Yesus orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sama sekali tidak membantu orang untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. Mereka sudah memiliki pengetahuan yang sangat baik akan Tuhan, mereka punya profesi yang sangat mendukung agar bisa menghantar orang dekat pada Tuhan. Kunci pengetahuan mereka sudah ambil, tetapi sayang sekali bahwa kunci pengetahuan yang telah mereka ambil tidak mereka manfaatkan dengan baik, entah untuk kesucian diri mereka sendiri maupun untuk orang lain. Untuk diri sendiri maksudnya bahwa pengetahuan yang sudah mereka pelajari yaitu Kitab Suci, Teologi dan hokum Yahudi seharusnya  dimanfaatkan dengan baik demi kekudusan diri sendiri. Yesus marah dan mengecam mereka karena menurut pengamatan Yesus Kristus, ilmu yang mereka pelajari bukannya membantu orang tetapi sebaliknya mempersulit orang masuk ke dalam kerajaan surga. Tingkah-laku mereka ini sudah mendatangkan malapetaka bagi diri mereka sendiri dan bagi orang yang mengikuti ajaran mereka.
Bulan Juli-Agustus 2012, saya mengikuti pertemuan para dosen seminari Tinggi dari Negara berbahasa Inggris di CIAM, di samping kota Vatican Roma. Beberapa pembicara waktu itu datang dari Vatican. Satu topik yang dibahas pada waktu itu adalah hendaklah ilmu yang diajar kepada para seminaris sudah menjadi bagian dari spiritualitas para pengajarnya.  Kalau ngajar Teologi… hendaklah ilmu yang diajar itu sudah menjadi bagian dari spiritualitas pengajarnya, bukan hanya mentransferkan ilmunya saja sementara isinya tidak dihayati dan diamalkan dalam hidup. Pengajar harus menjadi saksi dari ilmu yang diajarkannya. Ini satu tantangan bagi para dosen. Mengajar apa yang diimani dan hayati apa yang diajarkan. Kalau kita sanggup menjalankan hal ini, itu berarti kita sudah menjadi kunci pengetahuan bagi sesama dan bisa membantu sesama untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menjadi kunci pengetahuan iman bagi sesama? Bagaimana penghayatan dan pengamalan iman kita?
Kita berdoa semoga Tuhan membantu kita agar kita bisa menjadi kunci dan penyalur pengetahuan Tuhan kepada sesama sehingga dengan demikian semakin banyak orang mengetahui dan mengenal Dia.   

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Pontifex – Jembatan

​HIK:

Kamis, 13 Oktober 2016

Pekan Biasa XXVIII

Ef 1:1-10; Mzm 98:1-6; Luk 11:47-54

Inilah salah satu “kunci”, semacam panggilan orang kristiani, yakni menjadi media/sarana untuk mengantar orang kepadaNya: “Kuasa Untuk Nampakkan Cinta Ilahi”.
Adapun Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang malahan “mengunci” dan menghalangi orang untuk menjumpai Tuhan: “Celakalah kamu hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk malahan kamu halang-halangi.”
Dari teguranNya inilah, tercandra tiga kunci orang yang kadang tidak menjadi jembatan tapi malahan menjadi batu sandungan, antara lain:
1. Pelit berbagi.

Mereka “mengambil”/me-“monopoli” pengetahuan iman hanya untuk diri/kepentingan mereka sendiri.
2. Setengah hati.

Mereka tidak benar-benar masuk ke dalam ajaran yang mereka wartakan – “NATO- No Action Talk Only”
3. Iri hati.

Mereka tidak mau “tersaingi” sehingga cenderung menghakimi dan menghalangi orang lain yang ingin benar-benar mengenal Tuhan.
Disinilah, di tengah dunia harian yang kadang penuh dengan budaya “pelit berbagi- setengah hati- iri hati”, kita diajak mempunyai “KUNCI”- “Kuasa Untuk Nampakkan Cinta Ilahi”, lewat 3 pintu imani, antara lain :
1. Melihat contoh.

Kita diajak belajar dari teladan hidup para orang kudus yang bisa kita lihat dalam kitab suci/tradisi dan aneka sejarah gereja.
2. Memberi contoh.

Orang lebih percaya pada mata daripada telinga, bukan? Artinya: kotbah yang mujarab adalah teladan hidup yang nyata, bukannya kata-kata yang hampa karena orang butuh bukti bukan janji.
3. Menjadi contoh.

Akhirnya, bersama teladan para kudus, kita diajak untuk bisa menjadi “yesus-yesus kecil”, contoh hidup tentang kasih Tuhan yang nyata lewat sikap nyata: doa, ucapan, dan karya yang penuh cinta dan sukacita, bukan penuh iri dan cinta diri.
“Dari Jakarta ke Argentina – Wartakanlah cinta dengan sikap hidup yang sederhana!”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: