SMS Sabda

Another way spreading God Words

Ab imo pectore – Dari lubuk hati yang paling dalam

Itulah yang saya rasakan ketika memimpin misa pernikahan untuk adik kandung saya, beberapa tahun yang lalu.
Bagi saya, nilai semua sakramentalitas yang setia menemani perjalanan hidup umat beriman sungguh “5 MENG”: MENG-getarkan, MENG-gentarkan, MENG-uatkan dan MENG-esankan dan MENG-hangatkan.
Adapun hari ini, Yesus menekankan juga pesan kesetiaan dalam setiap hidup panggilan kita, entah sebagai orang awam atau rohaniwan, menikah atau selibat.
Pastinya, sebuah jalan panggilan mempunyai dua sisi sekaligus: Dari pihak Tuhan, itu merupakan tawaran. Dari pihak kita, merupakan pilihan dan keputusan bebas sehingga kita dengan setiap jalan panggilan masing masing berjuang untuk setia: hangat dalam panggilan dan bersemangat dalam karya pewartaan.
Dalam kosakata Bahasa Inggris, kata setia bisa berarti, “faithful“. “Faithful dibentuk dari kata dasar, “faith” berarti “iman”. Dkl: kesetiaan itu terkait-paut dan terjalin-erat dengan dimensi iman. Di dalam kamus, kata ‘setia’ mempunyai beberapa arti dasar, yakni: “taat, patuh; bagaimanapun berat dan susah – tetap melakukan tugas; berpegang teguh dalam perjanjian.”
Nah, mengacu pada buku saya, “XXX-Family Way” (RJK, Kanisius), kata “setia” bisa berarti “SElalu Taat dan Ingat Allah.”
A. SElalu:

Hal ini mengandaikan adanya konsistensi yang ber-kontinuitas: sama di setiap tempat dan setiap saat: entah suka maupun duka, pahit dan manis, untung dan malang, sehat ataupun sakit, karena Tuhan kita adalah juga Tuhan yang konsisten, yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan memberikan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2: 10B).
B. Taat:

Ini mengandaikan adanya relasi penuh loyalitas yang berarti ketika pada waktu sukar, kita tetap patuh dan dekat pada perintah Tuhan. Ingatlah sosok Ruth: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan” (Ruth 1: 16, 17).
C. Ingat Allah:

Ini menandakan sebuah keutamaan iman yang berkualitas: “eling lan waspada”. Bila keadaan dan segala sesuatu tidak menguntungkan atau mendatangkan hasil, kita tetap ingat pada janji Tuhan: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, bersukaria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3: 17). Hal ini didasari keyakinan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, yang turun tangan dalam setiap pergulatan hidup harian kita.
“Cari karang di Pattaya – Jadilah orang yang setia.”
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: