SMS Sabda

Another way spreading God Words

Silakan Pilih : Surga Atau Neraka

​MINGGU, 21 AGUSTUS 2016.

HARI MINGGU BIASA XXI C

Yes 66:18-21; Ibr 12:5-7.11-13; Luk 13:22-30

 Renungan :
01.

Perikop hari ini berisi kumpulan Sabda yang dalam Injil Mateus tersebar dan disampaikan Yesus dengan konteks yang berbeda-beda pula. Lukas menempatkan kumpulan Sabda itu sebagai jawaban Yesus atas pertanyaan yang diajukan oleh seseorang dalam ay. 23, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”.
Pertanyaan tentang siapakah yang diselamatkan itu nampaknya merupakan bahan diskusi yang hangat diantara para rabbi. Pendapat para ahli Taurat pun sangat bervariasi, mulai dari pendapat yang sangat pesimis sampai pandangan yang terlalu optimis. Atas pertanyaan itu Yesus memberikan jawaban yang sangat menarik: Pintu Kerajaan hanya bisa dibuka dan ditutup dari dalam, oleh Sang Tuan Rumah yaitu Allah sendiri. Di saat pintu terbuka, manusia harus berjuang untuk masuk ke dalam karena pintu itu sempit. Banyak orang yang ingin masuk tetapi tidak berhasil karena mereka tidak memenuhi syarat.

02.

Dalam ay. 25-27 Yesus memberikan tambahan penjelasan yang penting yakni pintu Kerajaan itu tidak selalu terbuka terus menerus. Pada suatu saat pintu itu akan ditutup. Ungkapan ay. 25 dan 27 “Aku tidak tahu dari mana kamu datang” kiranya berarti “Aku tidak mengenalmu”. Mengenal dalam Kitab Suci berarti mengasihi, menjadi bagian dari kehidupan orang yang dikenal. Orang-orang yang terlambat datang itu akan mengatakan bahwa mereka pernah mengenal Yesus dan merasa mempunyai hubungan yang akrab dengan-Nya, merasa bahwa Yesus telah menjadi bagian hidup mereka. Tetapi Dia akan menjawab, “Kalian bukan milik-Ku dan bukan bagian dari-Ku”.
Yang menarik dari perumpamaan ini ialah bahwa yang ditolak masuk ke dalam Kerajaan adalah orang-orang yang telah melakukan kejahatan, dan bukan bangsa-bangsa non Yahudi yang dianggap kafir, “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu sekalian yang berbuat jahat” (ay. 27; bdk. Mzm 6,9). Dengan perumpamaan ini Yesus menembus batas-batas nasionalisme. Syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya adalah pertobatan dan menerima kehendak Allah. Petrus pun mengungkapkan hal yang sama, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis 10:34-35).
Dengan demikian kiranya jelas bahwa kebersamaan dengan Yesus pada masa hidupNya tidak dapat menjadi jaminan keselamatan. Semua saja tanpa kecuali harus melewati “perjuangan memasuki pintu yang sempit”. Kata kerja “berjuang” di dalam Injil menerjemahkan kata Yunani agonizomai yang maksudnya adalah usaha keras seorang atlit untuk memperkuat fisiknya agar siap menghadapi pertandingan. Paulus dalam 1Kor 9:25 memakai kata-kata yang sama: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.” Kemudian digambarkan keadaan yang sangat kontras antara kebahagiaan yang akan dialami oleh mereka yang berada “di dalam” dengan rasa sakit dan penderitaan yang akan dialami oleh mereka yang tetap tinggal “di luar”. Tidak dirumuskan secara khusus dan terinci hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka yang tetap berada “di luar”. Hanya diungkapkan bahwa mereka akan mengalami rasa sakit dan didera oleh penyesalan berkepanjangan karena kehilangan anugerah yakni kebahagiaan kekal dalam Kerajaan Allah yang sebenarnya diperuntukkan bagi mereka juga.
Perumpamaan ditutup dengan mengutip Mzm 107:3 bahwa Allah mengumpulkan semua orang dari segala penjuru, “dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.” untuk ikut serta dalam perjamuan abadi bersama orang-orang pilihan-Nya, yakni Abraham, Ishak dan Yakub yang menjadi Bapa Bangsa bagi orang Yahudi serta para nabi (lih. Mat 8:11). Penegasan ini nampaknya mau menyatakan bahwa status sebagai keturunan Abraham, Ishak dan Yakub tidak menjadi jaminan untuk diselamatkan. Keselamatan di satu pihak memang merupakan anugerah namun di lain pihak mesti diperjuangkan lewat kerja keras dengan berbuat kebajikan. Semua bangsa akan dikumpulkan oleh Allah untuk turut serta mengalami kemuliaan-Nya (Yes 66:18-21, Bacaan I). Baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru, keselamatan pada akhir zaman atau kepenuhan kebahagiaan bersama Allah dalam Kerajaan-Nya digambarkan dengan pesta perjamuan (Yes 25:6; 65:13; Luk 14:15). Tidak ada seorang pun boleh merasa mempunyai hak istimewa untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

03.

Pertanyaan dalam ay. 23, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” dilatarbelakangi oleh gambaran akan Allah dan paham keselamatan yang menakutkan. Ketika Allah ditampilkan sebagai hakim yang adil, yang menghukum manusia sesuai dengan perbuatannya, “ingkang nyiksa pendamel awon lan ngganjar pendamel sae” dan juga “ingkang ngganjar selaras kaliyan amal kasaenanipun” dan ketika keselamatan juga bergantung dari usaha manusia maka mau tidak mau kita dicekam ketakutan karena menyadari sebagai makhluk yang lemah, rapuh, dan mudah jatuh ke dalam dosa.
Kesadaran bahwa sejarah hidup kita ditandai dengan kegagalan demi kegagalan, dosa demi dosa, kelemahan demi kelemahan membuat kita selalu cemas dan dihantui dengan ancaman hukuman, dengan neraka yang mengerikan. Dalam agama tertentu siksaan neraka yang mengerikan (biasanya digambarkan sebagai “api” yang menyala-nyala dan tidak bisa padam) dan amal kebaikan sebagai syarat untuk masuk surga begitu ditekankan untuk mendorong orang agar berbuat baik. Karena keselamatan bergantung dari usaha manusia sendiri maka manusia harus menjalankan hukum Allah dengan setia, terus menerus, tanpa cela dan dengan sepenuh hati.

04.

Yesus mewartakan Allah sebagai Bapa “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1 Tim 2:4), “yang menghendaki supaya jangan ada yang binasa” (2 Pet 3:9), “yang tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:14). Pewartaan ini menumbuhkan kelegaan, optimisme, membangunkan manusia dari mimpi buruk akan neraka dengan siksaan-siksaannya yang mengerikan.
Dalam sejarah perkembangan pemikiran manusia, pandangan yang optimis itu berkembang sedemikian rupa sampai jauh melampaui pewartaan Kitab Suci. Beberapa filsuf bahkan dengan terus terang menyatakan bahwa neraka itu tidak ada, atau kalau pun ada pasti kosong. Kalau pun ada neraka sebagai sebuah bentuk hukuman atas dosa pasti hanya berciri temporer karena hukuman yang kekal tidak cocok dengan kebaikan Allah dan penebusan dosa oleh Kristus. Origenes (184 – 253) mengajarkan adanya pemulihan kembali (apocatastasis) yakni segala sesuatu akan dipulihkan kembali seperti keadaan semula yakni keadaan seperti pada saat diciptakan (lih. Kis 3:21).

05.

Dengan perumpamaan tentang “Pintu Yang Tertutup” dalam perikop hari ini dengan jelas Yesus mengajarkan tentang adanya kemungkinan pemisahan definitif antara yang baik dan yang jahat, antara yang datang lebih dulu dan masuk ke dalam pesta perjamuan dengan mereka yang terlambat datang dan harus tinggal di luar. Ajaran Yesus ini disampaikan beberapa kali dalam Injil (Mat 5:22.29; 13:42.50; 18:9; 22:13).
Memang Yesus tidak mengatakan bahwa sudah ada orang yang menerima hukuman kekal. Dia hanya menyatakan kemungkinan mengalami keterpisahan dengan Allah secara definitif dan kekal itu sangat real. Adanya kemungkinan itu menunjukkan bahwa Allah mengakui kebebasan manusia untuk memilih. Bagi mereka yang memilih tinggal di luar, pintu kebahagiaan telah tertutup dan tidak akan pernah dibuka lagi. Belas Kasih Allah memang tidak terbatas tetapi manusia tetap bebas memilih menerima kasih itu atau menolaknya. Para murid mesti memperhatikan peringatan itu dengan serius.

06.

Terhadap pertanyaan “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (ay. 23) Yesus tidak memberikan jawaban ya atau tidak karena kedua jawaban itu bisa menimbulkan konsekuensi negatif. Seandainya Dia menjawab “Ya benar”, orang akan mengatakan, “Untuk apa kita ngaya-aya berbuat baik kalau toh akhirnya tidak diselamatkan!”. Sebaliknya kalau Dia menjawab “Tidak benar”, orang juga akan berdalih, “Apa perlunya kita berjerih payah berbuat baik, toh kita sudah diselamatkan”. Yesus mengubah pertanyaan teologis itu menjadi pertanyaan yang berdampak personal, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (ay. 24).
Mutu pribadi setiap orang dinilai dari tindakannya. Dengan demikian Yesus menolak pendapat para rabbi bahwa semua orang Israel, sebagai bangsa terpilih pasti akan diselamatkan. Di hadapan Allah tidak ada satu bangsa atau golongan atau bahkan tidak ada seorang pun yang bisa menuntut privilege atau hak istimewa untuk diselamatkan. Setiap orang mempunyai kedudukan yang sama.

07.

Kesamaan itu tidak boleh dimengerti secara identik dan seragam tetapi secara proporsional. Tidak semua orang mendapatkan anugerah atau berkat yang sama. Ada orang yang belum pernah mendengar pewartaan tentang Yesus Kristus atau orang yang lahir dari keluarga dan lingkungan yang mempunyai pandangan fanatik terhadap keyakinannya. Mereka dinilai berdasarkan kesetiaan dan ketaatan terhadap suara hati seperti yang diajarkan Paulus, “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Rom 2:14-15).
Namun ada pula yang telah menerima pewartaan atau pewahyuan Injil secara penuh, menerima rahmat sakramen dari Gereja dan pendampingan pastoral lainnya. Mereka dinilai berdasarkan kesesuaian hidup mereka dengan rahmat iman yang telah diterimanya, dari kesetiaan mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam Gereja. Dalam konteks yang berbeda Yesus pernah menegaskan, “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan.” (Luk 12:47-48).
Yang pasti setiap orang bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Setiap orang mesti berusaha sekuat tenaga, selaras dengan tuntunan dan rahmat yang diterimanya, berjuang untuk masuk masuk melalui pintu yang sempit.

08.

Kalau Yesus menekankan sempitnya pintu nampaknya Dia ingin menegaskan perlunya usaha yang serius untuk memasuki pintu itu. Kita tidak mungkin memasuki Kerajaan-Nya tanpa kerja keras, tanpa perjuangan karena pintu itu meskipun terbuka namun sempit. Bukan berarti Allah senang menciptakan kesulitan atau halangan untuk masuk ke dalamnya. Dia tidak seperti orang tua yang strict, yang tidak pernah memberikan hadiah kepada anak-anaknya, kecuali mereka yang “pantas” menerimanya. Allah tidak seperti itu!
Kehendak-Nya hanya satu: ingin melimpahkan anugerah-Nya secara berlimpah kepada anak-anak-Nya tanpa kecuali dan tanpa syarat. Dan yang diberikan adalah diri-Nya sendiri karena hanya Allah sajalah yang mampu memuaskan kerinduan hati kita. Namun persis disitulah masalahnya: kita tidak serta merta mampu menerima-Nya. Yesus memang berbicara tentang “pintu” yang sempit, namun bukan pintu surga melainkan pintu hati. Pintu hati kitalah yang sempit. Hati-Nya yang penuh dengan kasih sejati sesak untuk masuk ke dalam hati kita yang penuh dengan egoisme. Untuk masuk ke dalam kerajaan kasih-Nya kita harus menghilangkan lapisan egoisme, kesombongan dan rasa puas diri serta segala sesuatu yang menghambat berkembangnya kasih.
Hal itu membutuhkan usaha dan perjuangan yang mungkin disertai penderitaan. Di satu pihak pintu itu hanya bisa dibuka dari dalam (merupakan anugerah dan bergantung pada belas kasih Allah), di lain pihak pintu itu sempit (membutuhkan usaha dan perjuangan yang serius). Untuk masuk ke dalam pesta perjamuan itu butuh undangan (anugerah) tetapi juga harus berpakaian pantas pesta (usaha untuk memperindah kehidupan).
Melalui perumpamaan ini Yesus mengingatkan bahwa tidak boleh ada seorang pun yang merasa terjamin masuk surga (juga sakramen babtis sekalipun!). Kita dinilai bukan berdasarkan “agama” yang diyakini tetapi pada hati yang mencintai.

09.

(Dialog imaginatif )

Beberapa saat setelah saling bunuh dalam perang salib, orang Islam dan Kristen bertemu Allah di akhirat…
Orang Islam : Ya Allah, saya sudah rela membunuh dan terbunuh demi menegakkan agamamu, akulah syuhadamu, sayalah yang paling pantas masuk surga.
Orang Kristen : Ya Tuhan Allah kami, saya juga telah mati demi agamamu, sayalah martir sejatimu, sayalah yang paling pantas masuk surga.
Allah : Apa kalian yakin, yang kalian lakukan layak diganjar surga?
Orang Islam + Kristen : Tentu saja, kami sudah terlanjur kehilangan nyawa kami.
Allah : Kalau begitu kalian berdua berhak masuk surga.
Orang Kristen : Tunggu sebentar… Tuhan Allah, apakah Tuhan Allah bercanda? Bagaimana mungkin kami berada satu surga dengan musuh yang telah membunuh kami?
Orang Islam : Betul, kalau kami berdua sama sama masuk surga, berarti kami berdua sama sama benar. Kalau kami berdua benar, lantas buat apa kami saling bunuh?
Allah : Hmm, kalian benar juga… kalau begitu tidak ada yang masuk surga, semuanya masuk neraka.
Orang Islam : Lebih gila lagi, bukankah sudah Engkau janjikan surga bagi mereka yang rela mati demi agamamu.
Orang Kristen : Walau ini mungkin bukan kehendakmu ya Allah, tapi kami yakin seyakin-yakinnya bahwa yang kami lakukan ini benar, kami sudah terlanjur mati demi Engkau.
Allah : Hmm, kalau begitu salah satu dari kalian akan masuk surga.
Orang Islam + Kristen : Nah begitu dong, lantas siapa diantara kami yang berhak untuk masuk surga?
Allah : Oke kalian boleh saling bunuh lagi untuk menentukan siapa yang paling berhak.
Orang Kristen : Ya ampun Tuhan Allah.. kami ini sudah mati.. memang kami mesti mati berapa kali untuk membuktikan siapa yang paling benar?
Orang Islam : Kita ini sudah ada di akhirat, buat apa kami harus bertikai lagi? Apa akhirat ini perlu menjadi sama kacau balaunya dengan dunia?
Allah : !!!!!?????@#%/π®√×!!!???
Berkah Dalem.
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: