SMS Sabda

Another way spreading God Words

Lampu dan minyak iman

​Siraman Rohani

Jumat 26 Agustus 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Semoga lampu dan minyak iman kita selalu siap dan penuh agar di saat Tuhan datang lampu iman kita tetap bernyala. (Matius 25: 1 – 13)
Sdr/i…. Ada satu ceritera menarik. Seorang bapa keluarga diminta untuk masuk jadi anggota dewan paroki. Orangnya rajin bekerja dan suka damai. Tetapi kekurangannya adalah malu tampil di depan umum. Kalau diundang untuk ikut pertemuan di paroki, ia selalu mengirim utusannya untuk ikut pertemuan, entah mengutus istri atau anaknya. Syukur bahwa istri dan anaknya selalu bersedia mewakili dia.

Sewaktu dia meninggal, ia menghadap St. Petrus. St. Petrus tidak izinkan dia masuk surga. Dia protes, katanya: “Mengapa saya tidak diizinkan masuk?” Jawab St. Petrus, sabar dulu, kita tunggu utusanmu. Sambil mereka berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah seorang anaknya. Dia datang mendekati St. Petrus. Si Bapa sangat gembira melihat anaknya datang. Dia berpikir bahwa kini saatnya tiba ia akan masuk bersama anaknya. Tetapi begitu anaknya tiba di pintu surga, St. Petrus langsung mengizinkannya masuk, sementara si Bapa tetap tinggal di luar. Si Bapa semakin bingung, dia ngomel lagi sama santu Petrus. Selagi dia ngomel, sang istri muncul. St. Petrus sampaikan kepadanya bahwa istrinya datang. Sang istri datang mendekati keduanya. Sang istri heran karena suaminya masih ada di luar pintu Surga. Santu Petrus membukakan Pintu Gerbang baginya, sementara sang suami tetap tinggal di luar. Dia semakin heran, mengapa ia tetap tinggal di luar sementara anak dan istrinya langsung diizinkan masuk.

Dia meminta St. Petrus untuk menjelaskan kepadanya mengapa ia tidak diizinkan masuk. Dengan senyum St. Petrus berkata kepadanya: “Saya mengizinkan mereka masuk karena mereka adalah utusanmu, sementara engkau, engkau samasekali tidak punya urusan di dalam surga. Tinggallah di luar sini.

Satu pesan yang menarik untuk kita semua, bahwa kalau kita mau masuk ke dalam surga, jadilah utusan, bukan pengutus. Itu berarti kita harus selalu ikut aktip partisipatip dalam segala kegiatan apa saja yang berhubungan dengan kehidupan iman kita. Jangan hanya mengirim utusan sementara kita sibuk dengan urusan diri kita sendiri.

Urusan surga sesungguhnya adalah urusan yang sangat pribadi, sangat personal. Kita tidak bisa meminta orang lain untuk mengurus surga untuk diri kita tanpa usaha kita sendiri. Kita tidak bisa meminjam milik orang lain untuk mengisi kekurangan kita agar kita boleh masuk surga.
Ceritera perumpamaan yang kita dengar lewat Injil hari ini sesungguhnya kisah tentang sikap kita menghadap Tuhan di akhir ziarah kehidupan kita di dunia ini. Masing-masing kita secara pribadi menyiapkan lampu dan minyak. Lampu kita harus selalu diisi minyak agar tetap bernyala. Lampu adalah bahasa simbolis untuk diri kita, semetara minyak adalah semangat iman kita. Kita baru bisa dikenal Tuhan kalau iman kita selalu menjiwai semangat hidup kita. Kalau iman kita mati, itu berarti semangat hidup kita sebagai pengikut Kristus sudah mati.  Kayak lampu yang tidak berminyak, tidak memancarkan terang dari dirinya.
Lima gadis-gadis bijaksana dalam Injil adalah symbol orang Kristen yang selalu setia dan tekun dalam imannya. Selalu berusaha menghidupkan imannya dengan kegiatan-kegiatan rohani. Kegiatan rohani inilah yang mempengaruhi kepribadian mereka. Iman dan kesetiaan merekalah yang memungkinkan mereka bisa bertemu Tuhan di saat Tuhan datang.

Sebaliknya kelima gadis-gadis yang bodoh, yang tidak menyiapkan minyak adalah symbol orang Kristen yang mengimani Kristus tetapi tidak didukung oleh usaha menghidupkan imannya dengan kegiatan-kegiatan rohani dan karitatip. Kematian iman akan Kristus mengakibatkan kehilangan identitas sebagai pengikut Kristus. Karena itu di saat kedatangan Kristus, mereka yang mengalami kematian iman sudah tidak dikenal oleh Yesus Kristus.

Injil katakan: “Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi Ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Aku tidak mengenal kamu.”
Marilah kita bertanya diri, apakah kita selalu berusaha supaya iman kita selalu hidup dan menjiwai semangat hidup kita? Atau kita hanya meminta orang lain untuk mendoakan kita sementara kita sendiri tidak ada usaha untuk menghidupkan iman kita?
Kita berdoa semoga Tuhan selalu menyadarkan kita agar kita selalu menjadi utusan Allah yang setia dan selalu aktip partisipatip dalam segala kegiatan rohani dan karitatip sehingga dengan demikian kita akan dengan mudah melewati pintu surga di saat kita dipanggil Tuhan untuk menghadapiNya.

Kita juga memohon bantuan Bunda Maria untuk selalu berdoa bersama kita agar minyak lampu kita selalu penuh dan lampunya tetap bernyala setiap saat, sehingga di saat Kristus datang, Ia tetap mengenal kita sebagai  muridnya. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: