SMS Sabda

Another way spreading God Words

Ut sementes faceris ita metes 

​HIK: Jumat, 26 Agustus 2016

Pekan Biasa XXI

1Kor 1:17-25; Mzm 33:1-2.4-5. 10ab.11; Mat 25:1-13

“Ut sementes faceris ita metes – Seperti engkau buat pada waktu menabur, demikian engkau akan menuainya.”

Inilah sebuah pepatah latin yang lekat dengan prinsip populer “tabur – tuai”. Inilah juga yang diumpamakan Yesus tentang hal Kerajaan Surga: Itu seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak dalam buli-bulinya.”
Adapun tiga kearifan lokal yang bisa kita petik dari injil hari ini supaya kita bisa lebih bijaksana, al:
1. “Eling lan waspada”: Ingat dan bermawas diri.

Kita semua tahu bahwa persediaan minyak itu mutlak penting supaya sebuah pelita tetap dapat menyala, tapi kita kadang lalai, malas dan terlena. Kita mudah larut dan hanyut pada arus dunia sehingga kurang bersadar dan bermawas diri. Bukankah “Ya” dan “Tidak” adalah kata yang sangat singkat untuk dikatakan, tapi kita membutuhkan waktu berpikir yang tidak singkat untuk mengatakannya?
Resep sederhananya orang yang berjaga dan bermawas diri adalah: belajar saat yang lain tidur, bekerja saat yang lain malas-malasan, bersiap saat yang lain bermain dan berdoa saat yang lain takabur.
2. “Urip Iku Urup”: Hidup itu mesti “nyala”.

Tuhan mengajak kita supaya tetap mempunyai “urup”, nyala dalam hidup sehingga menjadi terang juga bagi orang lain. Itu sebabnya kita harus selalu mempunyai “persediaan minyak rohani” lewat hidup doa, olah rohani, devosi ekaristi dan pelbagai perbuatan baik lainnya.
Orang yang hidupnya menjadi terang karena dekat dengan Tuhan itu kerap sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan, biasa dalam penampilan tapi luar biasa dalam kearifan.
3. “Aja dumeh” – Jangan mentang-mentang.

Kita kadang merasa pintar dan tahu banyak hal sehingga menjadi orang yang sok dan mudah menghakimi dan kurang maksimal mempersiapkan diri. Akibatnya, kita mudah takabur dan nantinya menjadi orang yang kurang cermat dan cenderung tergesa-gesa padahal ketergesaan dalam setiap usaha kerap membawa kegagalan.
Disinilah, kita diajak untuk mau rendah hati untuk jangan pernah melupakan pemberian Tuhan, baik itu anugerah maupun cobaan, karena selalu ada makna disetiap peristiwa.
“Ada domba suka buah mangga – Jadilah hamba yang senantiasa berjaga.”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: