SMS Sabda

Another way spreading God Words

Doa dalam karya nyata

​Siraman Rohani

Sabtu 27 Agustus 2016

Rm Fredy Jehadin SVD
Tema: Bertekun dalam doa dan wujud-nyatakan buah doa dalam karya nyata. (Lukas 7: 11 – 17)



Saudara-saudari…. Sebentar lagi, 4 September 2016 Paus Fransiskus akan menobatkan Beata Teresa dari Kalkuta menjadi Santa. Saya masih ingat beberapa kata mutiara dari Muder Teresa. Katanya: “Buah ketenangan adalah doa, buah doa adalah cinta, buah cinta adalah pelayanan dan buah pelayanan adalah damai.”
Hari ini kita rayakan Pesta Santa Monika. Ia seorang ibu Katolik, berasal dari Tagaste Afrika Utara dari keluarga Kristen yang saleh dan beribadat. Waktu berumur 20 tahun, ia menikah dengan Patrisius, seorang kafir yang cepat panas hati. Selama hidup bersama Patrisius, Monika selalu alami tekanan bathin yang hebat karena ulah suami dan anaknya, Agustinus. Patrisius mencemoohkannya dan menertawakan usaha kerasnya mendidik Agustinus menjadi seorang pemuda yang luhur budinya.Namun semuanya itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa untuk memohon campur tangan Tuhan. Doanya dikabulkan, Patrisius akhirnya bertobat dan minta dipermandikan. Kemudian anaknya Agustinus, berkat bantuan dan bimbingan uskup Ambrosius yang kemudian digelar santo, juga bertobat.
Kata-kata mutiara muder Teresa sepertinya sudah dihayati dan diamalkan oleh Santa monika. Dalam ketenangan bathin di tengah kesibukan sebagai seorang ibu, Monika selalu ciptakan relasi yang sangat baik dengan Tuhan. Ia selalu berdoa. Buah doanya selalu ditunjukkannya kepada suami dan anaknya, ia selalu mencintai mereka. Cintanya bukan terbatas pada kata-kata indah, tetapi jauh dari itu, yaitu melayani mereka dengan penuh kasih dan serahkan mereka ke dalam tangan Tuhan lewat doa-doa hariannya. Kasih dan pelayanannya mendatangkan buah, keduanya bertobat dan jiwanya alami kedamaian.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki sikap seperti yang dimiliki oleh Santa Monika, selalu berdoa mohon pertobatan dari orang yang selalu berbuat sesuatu yang menyakitkan kita? Atau sebaliknya kita mencaci maki-nya dan tidak mau peduli dengan orangnya?
Hari ini Yesus merasa kasihan dengan ibu janda yang anak tunggalnya mati. Kita bisa bayangkan pergulatan bathin dari ibu janda ini: anak yang menjadi penopang hidupnya di masa tuanya kini sudah tiada; jaminan keamanan sudah hilang. Masa depannya jadi kabur. Di tengah kekalutannya, tiba-tiba muncullah Yesus Kristus. Yesus melihat janda itu, tergerak hatinya oleh perasaan belaskasihan, lalu berkata kepadanya: “Jangan menangis.” Yesus meneguhkan janda yang lagi dirundung duka yang sangat mendalam itu. Peneguhannya bukan hanya dengan kata-kata manis, tetapi lebih dari itu, dengan perbuatan nyata. Yesus mendekati usungan itu dan menyentuhnya. Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata. Kita bisa bayangkan kegembiraan ibu janda itu. Dari situasi duka-cita yang mendalam kini berubah menjadi suka-cita yang sangat luar biasa.
Apakah kita juga memiliki sifat seperti yang sudah ditunjukkan oleh Yesus Kristus, bahwa kehadiran kita mendatangkan rasa damai dan hiburan bagi keluarga yang kita kunjungi? 
Marilah kita berdoa, semoga teladan Santa Monika dan Yesus Kristus selalu menjadi inspirasi hidup kita.

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.
(Pastor Fredy Jehadin, SVD Papua New Guinea)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: