SMS Sabda

Another way spreading God Words

Eudaimonia – Kebahagiaan

HIK:

Rabu, 7 September 2016

Pekan Biasa XXIII

1Kor 7:25-31;.Mzm 45:11-12.14-17; Luk 6:20-26

Dalam bahasa Yunani, kata ini terdiri dari dua suku kata “eu” (“baik”, “bagus”) dan “daimōn” (“roh, dewa, kekuatan batin”). Secara harafiah istilah ini mengacu pada kondisi kebahagiaan oleh perlindungan roh yang murah hati.
Menurut Sokrates, manusia sendiri memiliki suatu cita-cita hidup, yaitu untuk mencapai kebahagiaan (eudaimonian = “jiwa yang baik”) dan sejatinya inilah pokok pewartaan iman ilahi pada hari ini: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Mereka yang disapa berbahagia adalah mereka yang “kecil”, yang tampak dalam 4 tipologi, antara lain:
1.Orang miskin.

Orang miskin (Yun: ptöchós) dalam bahasa Yahudi disebut anî (‘ânâh: bergantung pada orang lain), yang membentuk kata ‘anaw’, orang kecil, bersahaja dan saleh. Tuhan hadir sebagai “Tuhan yang mencintai orang kecil dan sederhana”, karena hidup sederhana menjadikan orang lebih mudah terbuka dan selalu mengandalkan penyelenggaraan ilahi sehingga memiliki kerajaan Allah.
2.Orang yang lapar.

Kelaparan adalah konsekuensi dari kemiskinan. Disinilah, Tuhan hadir sebagai “Tuhan yang maha mengenyangkan”, karena mereka yang lapar akan dipuaskan, diikutkan dalam perjamuan yang memuaskan (Yes 25:6) dan tidak akan merasa lapar lagi (Yes 49:10.13; Yeh 34:29).
3.Orang yang menangis.

Ia menjanjikan “sukacita mesianis”, dimana mereka yang menangis akan tertawa (Mzm 126,2).Tuhan hadir sebagai “Tuhan yang maha mengubah”, duka menjadi sukacita, airmata menjadi mata air.
4.Orang yang tertindas.

Ia menjanjikan penghiburan yang sejati bagi setiap orang yang “teraniaya”, dibenci-dikucilkan-dicela-ditolak karena nama Tuhan. Ia hadir sebagai “Tuhan yang maha penghibur.”
Indah dan adil-nya, ternyata disamping mengucapkan “berkat/perhatian” kepada orang kecil: “miskin, lapar, menangis dan dianiaya”, Yesus juga mengucapkan “kutuk/peringatan” kepada orang yang “besar”: kaya-kenyang-tertawa- suka dipuja-puji.
Jelaslah, Tuhan disini hadir sebagai Tuhan yg mempunyai trilogi citarasa, yakni Tuhan yang esa, yang kuasa dan yang berbelarasa. Ya, Tuhan jelasnya memiliki keberpihakan dan keterlibatan pada orang kecil yang miskin-lapar-menangis-teraniaya. Bagaimana dengan kita? Selamat bersaksi dan selamat ber-interupsi.
“Ada bedil di atas loyang – Tuhan itu adil dan berlimpah kasih sayang.”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: