SMS Sabda

Another way spreading God Words

Disiplin

​HIK:

Rabu 28 Sept 2016.

Ayub 9:1-12.14-16.

Luk 9:57-62
Dalam kacamata biblis, kedua belas rasul/para murid Yesus (Simon Petrus dkk) dalam Alkitab berbahasa Inggris, disebut sebagai “disciples”, bukan “students”. Mengapa? Kata ‘disciple’ sendiri berarti “murid yang belajar” (learner). Dan kata “disciple” ini dekat-lekat dengan kata “disiplin” (discipulus).
Dkl: Allah kerap ingin mendisiplinkan kita. Dia melakukan ini dengan menangani keinginan-keinginan daging kita. Dia melakukannya karena kita adalah anak-anakNya. (lbr 12:5-6: “Dan sudah Iupakah kamu akan nasehat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, Janganlah anggap enteng didikan Tuhan dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak”).
Mengacu pada bacaan injil hari ini, ada dua indikasi bahwa seorang beriman itu memiliki “kudis-kurang disiplin”, yakni: kurang berkomitmen serta suka menunda-nunda.
1.Orang yang kurang berkomitmen.

Luk 9:61-62 : Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Bila kita amati situasi di atas kita ketemukan bahwa masalah orang ini ialah godaan (“Saya akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi….”). Ketika itu Yesus nampak keras terhadap orang tersebut, tapi perlu kita ketahui bahwa Yesus mengenal hati manusia. Dia mengetahui pikiran di balik kata-kata.
Dengan jelas, hati orang itu bingung karena hal-hal di sekelilingnya, bukan hanya keluarganya. Dia belum sepenuhnya berkata “tidak’ kepada dunia, tetapi masih terus setengah hati dan melihat ke belakang. Dia belum berkata “tidak” kepada hal-hal yang menghalangi jalan untuk melayani Allah.
Ingatlah, bukankah pembajak yang mengagumi benda tetangganya di sawah sebelah tidak akan membajak dengan lurus? Kita tidak akan tetap berada di jalan yang sempit dan lurus, kalau mata kita selalu melihat ke kiri dan ke kanan, bukan? Cepat atau lambat akan tiba saatnya bahwa kita akan menyimpang.
Nah, sebagaimana membajak menuntut perhatian yang tak terbagi dari sang pembajak, demikian juga mengikut Yesus menuntut perhatian yang tak terbagi dari sang murid. Sekali kita memulai tugas kita, kita harus berkomitmen menyelesaikannya.
Komitmen sendiri berarti segera meninggalkan apa yang sedang mereka kerjakan dan mengikuti Yesus. Adalah mungkin bahwa meskipun mereka yakin akan tuntutan Yesus, tetapi mereka tidak bersedia meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Seandainya mereka tidak bersedia, mereka tidak menjadi murid-muridNya. Untuk menjadi murid-murid Yesus kita harus memiliki komitmen seperti para rasul. Menolak memberikan semuanya kepada Yesus berarti ada sesuatu yang lain yang kita ikuti yang kita anggap lebih penting daripada Yesus (Luk 14: 26-27).
Dkl: pekerjaan, keluarga, ambisi kita dan bahkan hidup kita sendiri harus menjadi nomor dua setelah komitmen kita kepada Yesus. Ini tidak berarti bahwa kita melalaikan keluarga kita atau melakukan pekerjaan seenaknya sendiri. Yang dimaksudkan ialah bahwa Yesus harus didahulukan.
2. Orang yang suka menunda-nunda.

Luk 9:59-60: “Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
Orang ini mempunyai problem dalam menentukan skala prioritas. Secara sepintas, nampaknya Yesus agak keras terhadap orang ini. Dalam tradisi Yahudi mengubur bapak itu tanggung jawab anak laki-laki tertua, dan mungkin saja, si murid itu anak lelaki tertua.
Pertanyaannya: Apakah bapaknya sudah mati? Pasti belum. Bapak orang ini mungkin bahkan tidak sakit, mungkin hanya karena tua dan lemah dan anak ini tidak mau melalaikan kewajibannya. Dia merasa dia tidak dapat meninggalkan bapaknya sampai dia meninggal dan tugasnya selesai.
Lalu apa masalahnya? Dia menaruh kekuatiran di hadapan Allah yang menyebabkan dia menunda-nunda dan tidak langsung sigap-bergegas mengikuti Yesus. Contoh sebaliknya, yang paling jelas tentang hal ini adalah panggilan Yesus kepada para muridNya. Kitab Suci berkata, “mereka segera meninggalkan jala mereka dan mengikut Dia”. (Mat 4: 20).
Bagaimana dengan kita?
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: