SMS Sabda

Another way spreading God Words

Adauge nobis fidem – Tambahkanlah iman kami

​HIK:

Senin, 03 Oktober 2016

Pekan Biasa XXVII

Gal 1:6-12; Mzm 111:1-2.7-9.10c; Luk 10:25-37

Keyakinan sebagai umat terpilih (the chosen people) seharusnya mendorong kita untuk beriman secara penuh dengan mengingat bahwa dimensi iman tidak cukup hanya diungkapkan atau dirayakan tapi juga harus diwujudnyatakan: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Dalam tradisi Yahudi, “sesama” = plesios = “orang dekat”, sebangsa atau sesuku, sehingga mereka cenderung hidup eksklusif dan mudah men-cap buruk yang lainn. Untuk menegur keadaan inilah, Yesus menampilkan tiga tokoh:
a.Korban perampokan:

Dia adalah seorang pria malang yang tidak diketahui namanya, status sosialnya, profesinya, sukunya, tujuan perjalanannya. Ia dipukuli perampok, pingsan (“setengah mati”), dilucuti pakaiannya ( “dirampok habis-habisan”) dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko yang berjarak sekitar 30 km.
Yerusalem sendiri terletak di bukit Yudea dengan ketinggian sekitar 700 m di atas permukaan laut, sedang kota Yeriko berada di dataran rendah, sehingga perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko merupakan perjalanan yang menurun. Jalan antara Yerusalem ke Yeriko memang terkenal berbahaya dan tidak aman maka disebut “jalan berdarah”.
b.Imam dan Lewi:

Kelompok yang mempunyai status sosial terhormat: Imam adalah pemimpin ibadat dan persembahan sedangkan Lewi adalah salah satu dari kedua-belas suku Israel keturunan Lewi, putra Yakub yang bertugas sebagai penjaga serta pemelihara Bait Suci di Yerusalem.
Kedua tokoh ini sengaja ditampilkan karena merekalah penjaga Taurat. Setiap hari, sebagai doa pagi dan malam, mereka mendaraskan Shema Yisrael: “Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Ehad.” (“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa”, Ul 6:4). Merekalah yang oleh Yesus dalam ayat sebelumnya (ay. 21) disebut sebagai orang bijak dan pandai namun tidak mampu mengenal misteri kehendak Allah dengan rencana penyelamatan Bapa melalui Putera.
Dalam perumpamaan ini mereka ditampilkan sebagai orang yang mengetahui dengan baik isi hukum Taurat tetapi tidak melaksanakannya.
c. Orang Samaria:

Seorang yang dianggap sesat, tidak memahami Taurat, tidak pernah menjalani ibadat di Yerusalem artinya dianggap jauh dari Allah, namun secara spontan malahan menunjukkan belas kasih dan kemurahan hatinya.
Dia mau berbelaskasihan dengan rela berkorban, al:

– waktu: Ia berhenti dan membawa korban perampokan itu ke rumah penginapan.

– tenaga: Ia menaikkan korban ke keledai tunggangannya.

– harta: Ia memberikan minyak, anggur dan membayar seluruh biaya perawatan orang itu.
Inilah sebuah perwujudan iman dari kutipan Ul 6:5 (“Kasihilah Tuhan Allahmu”) dan Im 19:18 (“Kasihilah sesamamu manusia).
Secara tidak langsung, Yesus juga menjelaskan bahwa semua orang adalah sesama: “hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”
“Naik delman di kota Pati – Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Salam HIKers,

Tuhan berkati & Bunda merestui

Fiat Lux!@RmJostKokoh
(Romo Josafat Kokoh Prihatanto – Jakarta)

  ———————–

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: